Perkuat Ketahanan Pangan Surabaya, DPRD: Hasil Panen Harus Dirasakan Warga

Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Ghofar Ismail

Karyanyata, Surabaya – rogram ketahanan pangan yang digencarkan Pemerintah Kota Surabaya mendapat dukungan penuh dari DPRD Surabaya. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit, benih ikan, maupun ternak yang disalurkan. Yang lebih penting adalah bagaimana program ini meningkatkan ketersediaan pangan, menjaga stabilitas harga, sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat.

Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Ghofar Ismail, menyebut berbagai program yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) telah dirasakan manfaatnya oleh warga. Mulai dari penanaman cabai, sayur-mayur, hingga pengembangan lahan padi di wilayah Wiyung, Lakarsantri, dan sekitarnya.

“Program ini memang sangat dimanfaatkan warga. Wali kota sudah menyalurkan bantuan cabai, sayur, dan padi. Semuanya bertujuan memperkuat ketahanan pangan di Kota Surabaya,” ujar Ghofar, Selasa (3/11/2026).

Ia menegaskan, seluruh anggota Komisi B mendukung langkah Pemkot. Hasil panen dari lahan masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi catatan keberhasilan program, tetapi benar-benar dinikmati warga sekitar.

“Alhamdulillah, kami dukung sepenuhnya. Saat masa panen, hasilnya diberikan kepada pengelola dan dibagikan ke warga sekitar. Tujuannya jelas: membantu pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat,” jelasnya.

 

🐟 Budidaya Praktis Tanpa Lahan Luas

Dukungan juga mencakup pengembangan perikanan dan peternakan skala rumah tangga. DKPP menyalurkan bibit ikan lele, 50 ekor per titik, lengkap dengan pakan dan sarana pemeliharaan.

Yang menarik, program kali ini menggunakan tong plastik, bukan kolam terpal seperti sebelumnya. Model ini jauh lebih praktis dan tidak membutuhkan lahan luas, sehingga bisa diterapkan di kawasan padat penduduk.

Selain lele, warga juga menerima bantuan ayam petelur — 10 ekor betina dan 2 ekor jantan per keluarga. Program ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan protein, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan.

“Ini upaya mendongkrak ekonomi masyarakat lewat sektor pangan. Warga tidak sekadar menerima bantuan, tapi diharapkan bisa mengembangkannya secara mandiri,” katanya.

Di sektor perikanan pesisir, Komisi B juga mendorong penguatan rantai distribusi melalui Koperasi Merah Putih. Tujuannya: ikan dari nelayan langsung sampai ke pembeli dengan harga wajar, tanpa terlalu banyak perantara.

 

🌶️ Panen Cabai Diharapkan Tekan Harga Akhir Tahun

Sementara itu, Pemkot Surabaya juga tengah fokus menstabilkan harga cabai menjelang akhir tahun. Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan penanaman bibit cabai telah berlangsung sejak akhir Agustus–awal September 2026, melibatkan masyarakat, kelompok tani, dan komunitas urban farming.

Melalui Surabaya Urban Farming Competition, warga didorong memperbanyak tanaman cabai. Hasil panen dijadwalkan mulai tersedia pada Desember 2026, menambah pasokan dan menekan kenaikan harga di pasaran.

Salah satu lokasi penanaman dilakukan di Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) Jambangan, dengan 4.100 bibit cabai dalam 2.050 polybag. Program ini juga bekerja sama dengan ITS untuk mengembangkan teknologi penanaman agar tanaman lebih tahan hama dan buah lebih awet.

 

⚠️ Program Harus Sesuai Kebutuhan Warga

Ghofar mengingatkan, keberhasilan ketahanan pangan bukan hanya soal memperbanyak produksi, melainkan memastikan hasilnya terdistribusi dengan baik dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya kesesuaian program dengan kebutuhan riil warga, termasuk bantuan dari pihak luar agar tidak tumpang tindih.

“Tantangannya bukan hanya menanam dan membagikan bibit. Yang terpenting: hasilnya sampai ke warga, harganya terjangkau, dan ekonominya berjalan berkelanjutan,” pungkasnya. (irm) 

Bagikan
karya nyata