Di pesisir utara Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Desa Cemandi, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan kisah panjang perjalanan Islam di tanah Jawa. Meski tampak sederhana, gapura megah di depannya menjadi bukti nyata bahwa bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah biasa.
Gapura bertingkat dengan gaya arsitektur Jawa kuno itu masih kokoh berdiri, menjadi saksi bisu bagaimana Islam perlahan tumbuh dan berakulturasi dengan budaya lokal yang sudah ada sejak lama.
Berdiri Sejak Ratusan Tahun
Dikenal sebagai Masjid Al-Barokah, bangunan ini dipercaya telah ada sejak berabad-abad lalu, sebagaimana cerita yang turun-temurun dari leluhur warga setempat.
Haji Sulam, salah satu pengurus masjid yang kini berusia sekitar 70 tahun, mengaku bentuk masjid ini nyaris tidak berubah sejak ia masih kecil.
“Sejak saya kecil, sudah begini bentuknya. Orang tua dulu sering bilang ini peninggalan zaman wali, sudah ada sejak zaman kakek-nenek kita,” kenangnya.
Menurutnya, perubahan hanya dilakukan pada bagian-bagian tertentu seperti lantai atau atap pelindung demi kenyamanan. Namun, struktur asli dan terutama gapura depannya, tetap dijaga sebaik mungkin.
“Gapura depan itu tidak pernah diganti atau diubah bentuknya. Itu yang paling dijaga dan dihormati oleh seluruh warga,” tambahnya.
Perpaduan Budaya
Secara arsitektur, masjid ini memancarkan ciri khas perpaduan unik antara budaya Jawa dan Islam awal. Atap berbentuk tajug, tiang-tiang kayu kokoh, serta gerbang bergaya paduraksa menjadi tanda kuat dari masa transisi budaya di Nusantara.
Dr. Ahmad Fauzan, sejarawan arsitektur Islam Jawa, menuturkan bahwa desain seperti ini sangat khas pada masjid-masjid tua di wilayah pesisir.
“Ini bukan gaya bangunan Timur Tengah, tapi murni gaya Jawa. Islam masuk bukan dengan mengganti budaya, tapi justru mengadaptasi dan menyatu dengan kearifan lokal yang sudah ada,” jelasnya.
Ia memperkirakan masjid ini mulai dibangun dan berkembang antara abad ke-15 hingga ke-17, masa ketika para Wali Songo giat menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.
Terkait Jejak Sunan Ampel?
Secara geografis, Desa Cemandi letaknya tidak jauh dari pusat dakwah Sunan Ampel di Surabaya. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa masjid ini merupakan bagian dari jaringan penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.
Meski belum ada catatan sejarah tertulis yang menyatakan masjid ini dibangun langsung oleh para Wali, namun kemungkinan besar bangunan ini memiliki keterkaitan erat dengan gerakan dakwah mereka.
“Bisa jadi ini adalah bagian dari jejak dakwah mereka, mungkin dibangun oleh para murid atau generasi penerus setelahnya,” ungkap Fauzan.
Masjid Yang Tetap “Bernafas”
Berbeda dengan bangunan bersejarah lain yang hanya menjadi objek wisata, Masjid Al-Barokah tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai rumah ibadah yang aktif.
Setiap hari, suara azan masih berkumandang, anak-anak setempat rutin belajar mengaji, dan warga desa terus berkumpul untuk melaksanakan ibadah serta kegiatan keagamaan.
“Yang paling penting, masjid ini masih dipakai, masih hidup dan bernyawa di tengah masyarakat,” ujar Haji Sulam dengan bangga.
Warisan Berharga
Kehadiran masjid tua ini membuktikan bahwa sejarah Islam di Jawa tidak hanya tertulis dalam kitab-kitab kuno atau tersimpan di museum besar. Sejarah itu hidup, berdiri tegak, dan dirasakan langsung oleh masyarakat desa.
Gapura sederhana namun kokoh di Cemandi menjadi pengingat bahwa dakwah Islam dahulu berjalan dengan cara yang halus, penuh kearifan, dan mampu menyatu dengan budaya setempat hingga mengakar sangat kuat.
Hingga kini, di tengah hembusan angin laut dan hiruk pikuk kehidupan masyarakat pesisir, jejak sejarah itu masih berdiri gagah, menjaga cerita masa lalu untuk generasi mendatang.
(Ry)












