Petirtaan Jolotundo: Menyusuri Jejak Sejarah dan Makna Simbolis di Hati Jawa Timur

Di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, berdiri megah sebuah situs peninggalan kuno yang telah menyaksikan berabad-abad perjalanan zaman. Petirtaan Jolotundo, atau yang juga dikenal sebagai Candi Jolotundo, bukan hanya sekadar reruntuhan batu, melainkan kumpulan cerita hidup yang terukir dalam setiap sudut struktur dan ukirannya.

Penelitian yang Merambah Waktu

Kehadiran petirtaan ini mulai menarik perhatian dunia arkeologi sejak tahun 1815, ketika Tj. van der Velde melakukan penggalian pertama dan menemukan petirtaan batu yang menyimpan abu serta potongan emas bertuliskan nama Dewa Isana dan Agni. Tak lama kemudian, pada tahun 1836 ditemukan arca naga dan garuda yang semakin memperkaya khazanah pengetahuan tentang situs ini. Pada pertengahan abad ke-19, para ahli Eropa seperti Sieburgh, Junghuhn, Van Hoevell, dan Brumund turut mendalami kajiannya, sebelum pada tahun 1937 Stutterheim meneliti pancuran berbentuk silinder yang diyakini sebagai lambang puncak Gunung Mahameru. Di era modern, para ahli Indonesia seperti Soekartiningrat juga berkontribusi dalam mengungkap misterinya, ditambah dengan pemugaran pada tahun 1991 hingga 1994 yang membuat situs ini tetap dapat dinikmati dan dipelajari hingga saat ini.

Struktur dan Relief yang Bercerita

Petirtaan ini memiliki bentuk kolam persegi panjang dengan ukuran 18 meter kali 12,5 meter, dikelilingi dinding di sisi utara, timur, dan selatan, sementara sisi barat dibiarkan terbuka sebagai bagian depan. Dinding baratnya terbuat dari batu andesit yang telah mengalami pemugaran pada masa kolonial Belanda. Air yang memenuhi kolam berasal dari sumber mata air yang berada di belakang dinding timur, dialirkan ke bilik-bilik kolam sebelum kembali masuk ke kolam utama melalui sejumlah pancuran kecil.

Relief yang ada di setiap bagian petirtaan menyimpan makna mendalam. Di dinding sebelah kanan terukir angka yang diperkirakan sebagai tahun pembangunan, yaitu 899 Saka atau sekitar tahun 977 Masehi. Bagian tengah teras kolam menampilkan kisah dari Mahabharata serta gambaran hubungan antara kerajaan Bali dan Jawa pada masa itu, khususnya terkait Raja Udayana yang menikahi putri Jawa. Relief juga mengandung simbolisme tentang Gunung Mahameru sebagai gunung suci dalam agama Hindu dan cerita Amrtamanthana atau pengadukan lautan untuk mendapatkan air suci amerta. Tak hanya itu, pancuran di bilik kolam utara berbentuk arca Garuda dan di bilik selatan berbentuk naga, yang masing-masing menjadi bagian dari ornamen yang memperkuat nilai spiritual situs ini.

Fungsi yang Menarik Perdebatan

Sejak ditemukan, fungsi sebenarnya dari Petirtaan Jolotundo menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli. Beberapa peneliti terdahulu menganggapnya sebagai tempat pemakaman, didasarkan pada tulisan “gembeng” yang terukir di dinding kiri yang berarti sirna atau pemakaman. Namun pendapat ini ditentang oleh ahli lain seperti Soekmono yang menyatakan bahwa candi pada dasarnya bukanlah makam. Berdasarkan temuan dan analisis mendalam, terutama dari Soekartiningrat, diperkirakan petirtaan ini berfungsi sebagai monumen yang menandakan keberadaan Raja Udayana. Diduga situs ini dibuat ketika sang raja mengundurkan diri untuk bertapa dan menghimpun kekuatan spiritual sebelum ia kembali merebut serta meneguhkan kekuasaannya di Bali.

Sebagai salah satu situs penting di Jawa Timur, Petirtaan Jolotundo terus menjadi bukti kekayaan budaya dan sejarah bangsa yang patut dijaga dan dikenang oleh generasi mendatang. 

Penulis: Riyan

Bagikan
karya nyata