Karyanyata, Malang – Ketua BPW KKSS Jawa Timur, Ir. H. Muslim Hamzah, menyampaikan bahwa kehadiran rombongan KKSS di lereng Bromo merupakan sebuah kehormatan untuk belajar langsung dari masyarakat Tengger yang hingga kini tetap teguh menjaga adat, melestarikan budaya leluhur, menghormati alam, dan hidup dalam semangat kerukunan.
“Bagi kami, masyarakat yang besar bukan hanya karena kemajuan yang dimilikinya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga akar budaya dan menghormati warisan leluhur. Nilai-nilai itu kami lihat hidup di tengah masyarakat Tengger,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Sulawesi Selatan juga mewarisi falsafah hidup, Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling memuliakan), dan Sipakainge (saling mengingatkan dalam kebaikan) memiliki semangat yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Tengger. yang menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut bertemu dengan filosofi masyarakat Tengger yang menjunjung persaudaraan, gotong royong, kesederhanaan, serta penghormatan kepada alam dan leluhur.
Pada kesempatan tersebut, Ketua BPW KKSS Jawa Timur, Ir. H. Muslim Hamzah, didampingi Sekretaris BPW KKSS Jawa Timur, H. Gasman Gazali, S.H., M.H., menyerahkan cenderamata kepada Romo Supoyo dan Romo Abah H. Kartono sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan antarkebudayaan.
Cenderamata berupa Songkok Pamiring atau Songkok Recca diserahkan kepada para tokoh adat Tengger Romo Supoyo, sebagai lambang kehormatan masyarakat Bugis-Makassar.
“Sebagai ungkapan hormat kepada para tetua adat, kami mempersembahkan Songkok Pamiring, warisan luhur masyarakat Bugis-Makassar. Songkok Pamiring melambangkan siri’ atau kehormatan, kejujuran, dan integritas yang senantiasa dijaga dalam setiap amanah. Semoga cenderamata ini menjadi simbol persaudaraan yang erat antara masyarakat Sulawesi Selatan dan masyarakat Adat Tengger,” ujar Muslim Hamzah.
Ia menambahkan bahwa Songkok Pamiring mengajarkan satu nilai luhur, yakni bahwa kehormatan merupakan mahkota sejati yang harus dijaga sepanjang hayat.
Selain itu, BPW KKSS Jawa Timur juga menyerahkan Passapu atau Patonro kepada Romo Abah, H. Kartono, sebagai simbol penghormatan terhadap kepemimpinan masyarakat.
“Passapu atau Patonro merupakan penutup kepala kebesaran masyarakat Bugis-Makassar yang melambangkan kepemimpinan, keberanian, kebijaksanaan, dan tanggung jawab dalam mengayomi masyarakat. Semoga cenderamata ini menjadi simbol penghormatan kepada Romo Abah. H. Kartono, sekaligus mempererat tali persaudaraan dalam menjaga nilai-nilai budaya bangsa,” katanya.
Menurutnya, Patonro mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian, kebijaksanaan, dan keteladanan.
“Hari ini, Songkok Pamiring dan Passapu kami persembahkan bukan sekadar sebagai cenderamata, melainkan simbol persaudaraan, penghormatan, dan ikatan budaya yang akan terus menyatukan hati, dari Sulawesi Selatan hingga Tengger,” ungkapnya.
Sementara itu, mewakili Generasi Muda keluarga besar Sulawesi Selatan, Nurdin Longgari menyampaikan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan juga memiliki ikatan sejarah dengan bumi Malang melalui perjuangan Karaeng Galesong yang mengakhiri perjalanan perjuangannya di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang.
Menurutnya, meskipun tidak terdapat catatan sejarah mengenai hubungan langsung Karaeng Galesong dengan masyarakat Tengger, hal tersebut menjadi simbol bahwa Jawa Timur sejak dahulu merupakan ruang perjumpaan berbagai suku bangsa.
“Hari ini, perjumpaan kami dengan Romo Supoyo, Romo Abah Kartono, para sesepuh adat, dan seluruh masyarakat Tengger menjadi lembaran baru persaudaraan antara Sulawesi Selatan dan Tengger. Kami datang bukan untuk mengajarkan apa pun, tetapi dengan hati yang terbuka untuk belajar dari kearifan masyarakat Tengger yang telah membuktikan bahwa menjaga adat, menjaga alam, dan menjaga kerukunan adalah warisan yang tak ternilai harganya,” ujar Nurdin.
Sebagai penutup dialognya, Nurdin membacakan puisi berjudul “Di Lereng Bromo, Kita Menjadi Saudara” yang dipersembahkan sebagai ungkapan rasa hormat dan persaudaraan keluarga besar Sulawesi Selatan kepada para sesepuh adat dan seluruh masyarakat Tengger.
Ketua Pelaksana Tudang Sipulung 2026, Ahmad Fuad Rahman, S.E., M.M., berharap seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi tahunan, tetapi juga mampu melahirkan kolaborasi nyata di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Tudang Sipulung bukan sekadar berkumpul, tetapi menjadi ruang untuk duduk bersama, bermusyawarah, membangun jejaring, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas,” tutupnya. (irm)












