Lestarikan Warisan Budaya: Selendang Semanggi Jadi Etalase Kuliner Surabaya

Karyanyata, Surabaya – Semanggi, kuliner ikonik Surabaya, kini memiliki “rumah” tetap di kawasan paling bersejarah: Jalan Tunjungan, atau yang akrab disebut Tunjungan Romansa. Stan kuliner UMKM bernama Selendang Semanggi milik Bu Aminah resmi dibuka, menjadi pusat penjualan semanggi permanen pertama di jantung Kota Pahlawan.

Peresmian yang berlangsung Senin (8/6/2026) itu dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Wakil Wali Kota Armuji, dan Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri. Kehadiran stan ini pun langsung menyita perhatian pecinta kuliner sekaligus menginspirasi sesama pelaku usaha mikro.

Dukungan Penuh untuk Lestarikan Warisan Budaya

Tri Rismaharini menyambut baik langkah yang diambil Bu Aminah. Baginya, keberhasilan ini membuktikan bahwa UMKM lokal bisa berkembang pesat asalkan mendapat pendampingan yang tepat.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Yang terpenting bukan hanya bisa bertahan hidup, tapi bagaimana mereka bisa naik kelas tanpa melepaskan jati diri dan identitas lokalnya,” ujar Risma.

Ia menegaskan semanggi bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga. “Ketika usaha seperti ini tumbuh, yang berkembang bukan hanya ekonominya, tapi juga rasa bangga kita terhadap budaya sendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Armuji menilai keberadaan stan ini sangat tepat. Sebab, semanggi merupakan kuliner langka yang tumbuh secara alami hanya di wilayah tertentu seperti Pakal dan Kendung.

“Semanggi adalah ciri khas Surabaya yang harus dilestarikan. Berada di Tunjungan, tempatnya menjadi etalase kuliner yang bisa dinikmati siapa saja, baik warga lokal maupun wisatawan,” jelasnya yang akrab disapa Cak Ji itu.

Ia juga mengapresiasi inovasi Bu Aminah. Dulu semanggi hanya bisa dikonsumsi hari itu juga, kini sudah dikemas dalam bentuk kering yang tahan hingga berbulan-bulan dan bisa dikirim ke luar kota. “Ini terobosan yang patut didukung agar jangkauannya semakin luas,” katanya.

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri pun menambahkan bahwa semanggi memiliki nilai sejarah dan gizi yang baik. “Ini makanan khas yang tidak dimiliki daerah lain. Sudah saatnya dikenalkan lebih luas ke generasi muda,” ujarnya. Ia menekankan pertumbuhan UMKM menjadi kunci memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

Air Mata Haru Penjual Gendong yang Kini Punya Stan

Di balik kesuksesan itu, tersimpan perjuangan hampir dua dekade. Bu Aminah mengaku tak pernah menyangka mimpinya bisa menjadi kenyataan.

“Rasanya seperti mimpi. Dulu saya hanya berkeliling menjual semanggi dengan digendong, sekarang bisa punya stan sendiri di Jalan Tunjungan. Saya terharu sekali,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Usahanya dimulai sejak 2007. Titik baliknya terjadi saat ia bergabung dalam program Pahlawan Ekonomi yang digagas Pemkot Surabaya di masa kepemimpinan Risma. “Di situ saya belajar banyak hal, mulai dari cara mengelola usaha hingga memperluas jangkauan pasar,” kenangnya.

Kini, di stan Selendang Semanggi tersedia dua varian: semanggi segar siap santap dan semanggi instan kering tanpa bahan pengawet yang tahan hingga dua bulan. Produk ini sengaja dikembangkan sebagai oleh-oleh khas Surabaya yang bisa dikirim ke seluruh Indonesia.

Respon Positif Masyarakat

Kehadiran stan ini mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Salah satunya Rudi, warga yang sengaja mencicipi menu di lokasi. “Lokasinya strategis, rasanya tetap otentik, dan harganya terjangkau. Sangat pas dijadikan tempat memperkenalkan kuliner asli Surabaya,” ujarnya.

Dari yang dulunya hanya dijual dari gendongan, semanggi kini tampil sebagai ikon kuliner kebanggaan kota. Kehadiran Selendang Semanggi menjadi bukti nyata: UMKM lokal bisa maju dan dikenal luas, selama tetap memegang teguh akar budayanya. (irm)

Bagikan
karya nyata