Earth Hour “Menumbuhkan kesadaran untuk merawat bumi”


Earth Hour “Menumbuhkan kesadaran untuk merawat bumi”

Sumber Ilustrasi Gbr : bizvantage360.com

CSR Center Indonesia, Gerakan Earth Hour diperingati setiap 30 Maret di seluruh dunia untuk menghemat listrik. Namun tak banyak yang tahu aksi ini bukan sekedar soal kampanye mematikan lampu.

Sejak dimulai pada 2007 di Australia, Earth Hour terus menjangkau banyak kota di seluruh dunia, pada 2019 ini,  gerakan earth hour sudah diperingati  hampir di 30 kota di Indonesia.

Peringatan ini ditandai dengan pemadaman listrik di ratusan gedung pemerintah, gedung perkantoran, hotel, dan landmark.

Menurut CEO WWF Indonesia Rizal Malik, Earth Hour bukan cuma menghemat listrik satu jam. Tapi kampanye dalam upaya  menyadarkan masyarakat terhadap  pentingnya merawat Bumi. Pada tanggal 30/3 lampu-lampu di seluruh dunia dimatikan pada pukul 8.30 malam untuk menarik perhatian dunia pada isu perubahan iklim.

 “Bagaimana kita bersama-sama mengingat kembali hubungan kita dengan alam. Alam yang memberikan sumber kehidupan bagi kita, oksigen, air, pangan, obat-obatan dan berbagai hal yang membuat kita bisa bertahan hidup,” ujarnya dalam seremoni pemadaman lampu di sebuah pusat perbelanjaan di kota Bandung, Sabtu (30/3) malam.

“Akan tetapi perilaku konsumsi dan produksi kita sampai saat ini, nampaknya masih belum seluruhnya selaras dengan alam,” tambahnya.

WWF Indonesia mencatat, setiap tahunnya, kampanye ini melibatkan 2.000 relawan dan dua juta orang di media sosial. Kebanyakan relawan ini adalah kelompok muda. Komunitas Earth Hour di berbagai kota mendorong pelestarian bumi dan gaya hidup ramah lingkungan.

“Mereka tidak berhenti di tahun ini 30 Maret saja, tapi mereka juga melakukan banyak kegiatan. Misalnya, tahun lalu relawan menanam terumbu karang dan pohon bakau. Yang paling penting adalah mereka kalau pergi ke mana-mana bawa tumbler dan plastik sekali pakai,” ujarnya kepada VOA.

Komunitas Earth Hour di Indonesia menargetkan, setiap orang bisa mengurangi emisi karbon 5 persen dengan membiasakan gaya hidup ramah lingkungan. Lebih dari mematikan lampu satu jam, jelas Rizal, setiap orang bisa menghemat listrik, memakai transportasi publik, mengurangi plastik sekali pakai, dan membawa botol minum sendiri.

“Kalau besok kita masih pakai AC, tidak diperlukan, tidak dimatikan, meninggalkan ruangan lampunya tidak diperlukan, tidak dimatikan, menggunakan kendaraan pribadi padahal bisa menggunakan kendaraan umum, saya kira berarti tidak banyak berubah,” jelasnya.

Sumber : voaindonesia.com



Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here